Cinta bersemi di pohon ketepeng

Cinta bersemi di pohon ketepeng.

Oleh : J.B. Erwin H.

            Angin sepoi – sepoi. Mengirimkan butiran – butiran cinta. Bagi mereka yang membutuhkannya. Menghaluskan segala derita yang mengganjal. Puing – puing kenangan tak kan terlupa. Membawa angan – angan melayang ke masa silam. Jerit, tangis, tawa, senyum dan surat cinta kan selalu mewarnai kehidupan.

            Dadang seorang pemuda desa. Bermodalkan sandal jepit, celana pendek, kaos oblong, tas bambu dan sebuah tongkat panjang dengan ujung yang meruncing, Dadang siap menerjang segala rintangan yang menghadang. Panas, dingin, lapar, sepi menjadi sahabat Dadang ketika sang galau menerjang secara bertubi – tubi.

            Kotoran – kotoran busuk menjejali kehidupan kota. Berhasil mengkunci hati setiap insan yang tak memandang. Di sungai yang segar, di jalan yang panas, di sawah yang sejuk, telah menjadi piramid sampah –sampah kota. Seakan – akan melempari ‘kepala bumi’ dengan kotoran, penghinaan, dan menantangnya untuk bertarung. Perbuatan – perbuatan manusia berotak udang itu membuat Bumi marah dan marah.

            Di jaman yang semakin hari semakin bodoh dan terbalik ini. Dibuka lowongan untuk seorang manusia yang mampu meredam kemarahan – kemarahan sang bumi dari angkara murkanya. Bila sang bumi marah, angin menjadi badai, api menjadi laut, air menjadi tsunami dan banjir, melahap semua manusia yang ada di atas kepalanya. Tidak memandang siapapun. Baik yang berbuat salah maupun yang tidak. Tidak peduli teriakan anak kecil yang ketakutan.

            Dadang mempunyai kemampuan untuk menjadi sosok peredam kemarahan bumi yang menakutkan itu. Dengan tongkat yang selalu dibawahnya. Dadang menancapkan ujungnya ke sampah yang tidak disukai bumi. Sampah yang tidak disukai bumi adalah sampah anorganik yang sulit terurai oleh bakteri. Jadi sampah yang diburu Dadang adalah sampah anorganik yang kemudian di jual ke agen rosokan, dengan cara itu Dadang mendapat uang dari kerja kerasnya untuk membeli segunung nasi.

Pekerjaan Dadang adalah pekerjaan yang mulia, bermanfaat bagi orang – orang disekitarnya. Sebaik – baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain. Walaupun tetesan – tetesan keringat yang tak henti – henti keluar dari pori – pori kecilnya, ada saja manusia – manusia berotak udang yang mencerca dan menghinanya.

Manusia berotak udang berkata, “Dadang kamu ini siapa ?, lihat dirimu, bau sampah seperti itu, miskin lagi. Lihat aku, wangi, pakai dasi, uang pun banyak. Sedangkan kamu hanyalah seorang pemulung dari keturunan pemulung.”

Dadang pun menjawab dengan santai dan penuh wibawa, “KAU SALAH, aku bukanlah pemulung, tetapi aku adalah seorang sampah hunter.”

Manusia berotak udang tertawa terbahak – bahak, “hahahahahahaha.”

Dadang berkata, “Jangan sombong kamu, dasar BOTAK, kau menghina pekerjaan kami, bila tidak ada kami, kau tidak akan bisa menjalankan bisnismu dan menjadi sekaya ini.”

Manusia berotak udang berkata, “emang bisa begitu, hahahahahahaha.”

Dadang berkata, “bila tidak ada kami, kau akan bermandikan tetesan –tetesan selokan, memakan bangkai – bangkai binantang, terkubur di dalam sampah – sampah yang senasib sama denganmu.”

Dadang pun pergi dan menjauh dari manusia berotak udang itu.

***

            Tugas Dadang hari ini sebagai sampah hunter adalah memburu sampah di sekolahnya dulu. Lorong – lorong sekolah yang gadu akibat dari hentakan kaki Dadang yang tidak pelan – pelan melangkah. Sekolah yang dulunya tempat Dadang menimba ilmu, sekarang tempat Dadang menimba sampah anorganik. Lapangan sepak bola yang luas sekarang menjadi tempat pembuangan sampah akhir.

            Dadang melihat pohon ketepeng. Pohon itu adalah salah satu saksi bisu sejarah Dadang ketika menimba ilmu di sekolahnya. Baik cerita bahagia, duka, sedih, tawa, pohon ketepeng itulah menjadi salah satu teman curhatnya.

            Tidak lama kemudian datanglah seorang gadis. Dinda namanya. Gadis yang pernah mengisi hati Dadang. Dinda berlari dengan penuh kegirangan mendekati Dadang. Dadang pun ikut lari menghampiri Dinda walaupun terkesan ikut – ikutan.

            “Daaaaaadaannng,” teriak Dinda.

            “Diiiiinndaaaaaaa,”teriak Dadang.

            “Berisik, kau Dadang” teriak sampah hunter lain.

            Kemudian Dinda dan Dadang saling berpelukan. Ketika Dinda berpelukan dengan Dadang, Dinda mencium udara yang tidak sedap. Seperti bau comberan ditambah dengan kaos kaki plus daging busuk.

Dadang pun menyadarinya dan berkata, “Maaf Dinda, itu adalah bauku. Itu adalah salah satu resiko sebagai sampah hunter. Menjaga kelestarian alam, dengan membasmi sampah – sampah yang merugikan.”

            Dinda pun berkata, “Aku tidak peduli dengan baumu Dadang, kerja kerasmu sebagai sampah hunter membuat harum hatiku.”

            “Kau bohong Dinda, kau tega menyakiti hatiku yang kecil ini.”

            “Aku tidak bohong Dadang.”

            “Apa buktinya Dinda ?”

            “Ketika kau memburu sampah anorganik kota, secara tidak sadar kau telah memburu hatiku dan jiwaku.”

            “Aku tidak percaya, apakah ini mimpi ?”

            “Tidak Dadang, ini bukan mimpi.”

            “Coba cium aku Dinda.”

            PLAK PLAK PLAK PLAK

            Jejak telapak tangan yang terbuka dengan warna merah, terlukis di pipi dadang. Dadang pun mengelus-elus pipinya.

            “Mengapa kau lakukan ini Dinda ?”

            “Karena aku ingin menampar pipimu dengan perasaan cintaku kepadamu.”

            Tidak lama kemudian. Dadang mengajak Dinda ke suatu tempat untuk tapak tilas perjalanan hidup mereka di masa – masa silam. Pohon ketepeng yang tinggi dengan daunnya yang lebat, menjadi tempat sasaran Dadang dan Dinda. Dadang dan Dinda berjalan setapak demi setapak dan akhirnya tiba di tempat. Dadang dan Dinda duduk di tumpukan batu bata yang menyerupai kursi.

            Dadang berkata, “Dinda apakah kau masih ingat dengan tempat ini ?”

            Dinda menjawab, “aku masih ingat, kenangan – kenangan yang masuk akal dan tidak masuk akal terjadi di tempat ini, termasuk kenangan kau mencium pipiku tanpa ijin.”

            “Maaf Dinda, aku terlalu sayang padamu.”

            “Iya, aku mengerti kalau kamu sayang kepaku, sayangnya kamu ciumnya cuman satu pipi, coba tiga, aku tidak akan menampar pipimu.”

            “Dulu kita disini sering lo main petak umpet masih ingat kah kau Dinda.”

            “Masih ingatlah Dadang, Kau telah berhasil mengumpetkan hatiku dari teman – teman mu yang suka kepadaku.”

            “Dinda apakah kau masih ingat akan janji kita di pohon ketepeng ini, janji suci ?”

            “Janji apa Dadang ?”

            “Janji kalau kita akan menikah bila sudah besar nanti dan memproduksi anak yang banyak.”

            Dinda terdiam seribu bahasa dan meneteskan air mata.

            SLURP, bunyi ingus yang keluar, ditarik masuk kembali ke dalam hidung dengan menarik nafas cepat.

            “Tidak lama lagi, aku akan tunangan dengan lelaki lain Dadang.”

            Dinda lari menuju pohon ketepeng dan memeluknya. Dadang pun menghampirinya.

            “Mengapa Dinda, mengapa ?” sambil memegang pundak Dinda. Dinda pun kembali berlari ke kursi batu bata. Dadang pun mengikutinya.

            “Karena keluargaku tidak setuju aku menikah dengan kau Dadang.”

            “Apa alasannya tidak setuju kau menikah denganku ? apa kekuranganku ? mukaku ganteng, walau itu kata orang tuaku, tinggiku lumayan. Apa kurangnya ?”

            “Uang,” Jawab Dinda dengan singkat.

            Kalau berurusan dengan uang Dadang tidak berdaya. Maklum Dadang dari keluarga miskin sedangkan Dinda dari keluarga kaya.

            “Apa maksudmu Dinda ? hanya karena aku miskin, tidak punya uang, buat makan pun susah. Kau berani menggadaikan cinta kita dengan uang.”

            “Bukan aku Dadang, tapi orang tua ku. Mamaku bilang, kalau kau ingin mengetahui kehidupanmu setelah menikah nanti, lihatlah kehidupan calon suamimu sebelum menikah.”

            “Sampah Hunter kehidupanku, ikut serta menghijaukan bumi dan menyuburkan tanah kalau tidak ada sampah anorganik yang berserakan di muka bumi ini. Apa yang salah ?. Apa karena aku miskin ?”

            “Kau tidak Miskin Dadang, buatku kau adalah orang yang paling kaya yang pernah aku kenal, melibihi siapapun.”

            “Kok bisa.”

            “Kau telah mengkayakan hatiku dengan cintamu yang tulus dan setia. Keluargaku tidak setuju menikah denganmu karena mereka tidak ingin kalau aku menjadi sampah hunter sepertimu.”

Dadang menghela nafas.

            Tiba – tiba seorang yang mengendarai sepeda pancal lewat disampin Dadang dan Dinda. Orang tersebut berteriak, “Awas, tangannya mbak.” Pengendara sepeda itu akhirnya menubruk pohon yang ada didepannya karena serius memandangi Dadang dan Dinda menyirami benih benih cinta dibawah pohon ketepeng. Pengendara sepeda pancal itu akhirnya jatuh, tersungkur dengan posisi nungging.

            “hahahahahahahahahaha,” tawa Dinda yang seperti mak lampir, tawa yang sangat keras, seakan – akan terdengar hingga ratusan kilometer.

            Oding menatap mata Dinda yang bulat dengan penuh perasaan. Dinda pun kembali menatap Dadang.

            Dinda berkata, “Mengapa kau menatapku seperti itu Dadang ?”

            Dadang berkata, “Karena aku ingin melepaskan busur – busur cintaku ke matamu.”

            “Mengapa kok dari mata Dadang ?”

            “Karena cinta itu datangnya dari mata turun ke hati.”

            “Tahukah engkau Dinda, mengapa keluargamu tidak ingin kau menjadi sampah hunter ?”

            “Tidak tahu aku Dadang, emang mengapa?”

            “Keluargamu tidak ingin hatimu kuburu, tetapi keluargamu menginginkan hatimu kumiliki.”

            “Gombal.”

            “Kau telah menggombali hatiku.”

            “Ngaco kamu, hahahahahahaha.”

            “Kau telah mengacaukan pikiranku dengan terjangan gelombang asmaramu.”

            “Hahahahahaha, gila.”

            “Gila karena cintamu kepadaku.”

            “Dadang bisa aja.”

            “Iya, untuk mengambil hatimu kembali yang hilang dalam hatiku.”

            Dadang dan Dinda tertawa terbahak – bahak.

            “Dinda, lihatlah bunga – bunga yang ada disana,” Dadang menunjukkan Dinda dengan jari telunjuknya.

            “Iya aku lihat.”

            “Tahu kah kamu, sekian banyak bunga yang berwarnah merah dan hanya satu bunga yang berwarna putih.”

            “Tidak Dadang.”

            “Bunga merah melambang wanita yang ada di dunia. Hanya bunga putih yang melambangkan hanya kamu yang dapat menarik hatiku. Warna putih melambangkan sucinya cintaku kepadamu.”

            Dinda terbius oleh rayuan – rayuan buaya Dadang.

“Demi cinta kita Dinda, aku akan berubah. Orang tuamu ingin kau menjadi apa ?”

            “Orang kaya Dadang.”

            “Aku akan berusaha untuk menjadi kaya dan menikah denganmu.”

            “Benarkah.”

            “Insya Allah.”

            “Akan ku tunggu janjimu Dadang.”

            Langit semakin menghitam. Sang Surya bersiap – siap untuk tertidur akibat penyaksian seminya cinta dibawah pohon ketepeng. Membawakan malam – malam sejuta bintang. Membentuk  gugusan – gugusan cinta. Membawakan angin malam penuh penyakit.

            Dadang dan Dinda pun berpamitan.

            Mereka berdua berpelukan dan meneteskan air mata.

***

Singkat Cerita.

Tiga bulan kemudian, Dadang bertemu dengan orang tua kandungnya. Orang tua kandung Dadang adalah seorang pengusaha besar dan super kaya. Dadang terbuang di tempat sampah akibat lolos dari penculikan anak yang marak pada waktu itu. Anak yang diculik akan dijadikan barang dagangan yang bernilai puluhan juta rupiah. Dadang di asuh oleh keluarga sampah hunter.

            Memang benar kata orang. Dunia ini seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah. Dadang telah mengalami masa – masa di bawah. Dengan bertemu dengan orang tua kandungnya. Dadang memulai masa – masa di atas.

            Dadang meminta ijin kepada orang tua kandung dan angkatnya, Dadang ingin menikah dengan Dinda. Orang tua kandung dan angkat Dadang menyetujuinya.

            Tiga hari kemudian. Berbondong – bondong keluarga besar Dadang dikawal oleh ribuan mobil mewah menuju ke rumah Dinda. Ramai – ramai membunyikan sirine mobil. Membuat kegaduhan di jalan. Melambangkan kebahagiaan hati yang berbinar – binar.

            Kaget. Satu kata yang dialami oleh keluarga Dinda. Dinda dan keluarganya bergegas keluar rumah.

            Dengan penampilan yang kaya. Dadang langsung melamar Dinda di tempat. Dinda pun heran seheran – herannya hampir tak percaya.

            “Dadang,” suara Dinda.

            “Dinda,” suara Dadang.

            “Ada apa ?”

            “Aku kesini untuk memenuhi janji kita saat kita bertemu di pohon ketepeng.”

            Dadang dan Dinda berpelukan. Orang tua Dinda hanya diam seribu bahasa karena Ayah kandung Dadang adalah bos dari ayah Dinda.

            Acara pertunangan pun dimulai dan penentuan pernikahan.

            Satu minggu kemudian

            Dadang dan Dinda menikah yang tempatnya dibawah pohon ketepeng. Dadang dan Dinda menebar senyum kepada tamu – tamu undangan.

            Cinta kembali bersemi di Pohon Ketepeng.

Pesan Seorang Ibu

Pesan Seorang Ibu

            Kring… kring … kring… telepon genggam berbunyi mengisyaratkan adanya pesan singkat yang masuk dari orang yang aku kenal. Suara itu lah yang berhasil membangunkanku dari tidur panjangku semalam penuh. Memang sudah aku rencanakan tidur lebih awal dan lebih lama untuk mempersiapkan diriku bertamasya ke Kebun Binantang Surabaya agar tidak mudah lelah. Aku ambil telepon genggam yang biasanya ku taruh di meja sebelah kanan tempat tidurku. Aku melihat di layar telepon genggamku, terpampang gambar amplop surat disertai dengan nama Romi sebagai tanda identitas pengirim pesan singkat. Hari ini lah yang aku tunggu – tunggu untuk melepas rasa pengat yang menyerang otakku akibat proses belajar di kampus selama dua semester yang menjenuhkan dan aku membaca pesan singkat dari sahabat yang paling dekat dikampus, “Jangan lupa nanti kita kumpul di alun – alun pukul 06.00 WIB, jangan sampai telat, kalau telat resiko tanggung sendiri, terima kasih,” aku bergegas meninggalkan tempat tidur yang terasa pingin tidur lagi dengan hawa dingin pagi yang menggoda.

            Setelah mandi, gosok gigi, makan dan tidak lupa merapikan tempat tidurku, aku bersemangat untuk mengemasi barang – barang penting yang akan aku bawa ke Kebun Binantang Surabaya seperti kamera digital, buku catatan, bolpoin, dan teopong. Tak lama kemudian Ibuku datang menemuiku dan dia berkata, “Nih pesan untukmu, pertama, kalau memasukkan uang jangan di masukkan hanya satu saku, tapi masukkan di seluruh saku celanamu dengan uang yang dibagi – bagi  rata dengan jumlah saku celanamu agar kalau pencuri mencuri uangmu dalam satu saku maka kamu masih punya uang di saku yang lain, kedua, jangan lupa simpan jas hujan di tasmu untuk jaga – jaga, dan yang ketiga, jangan lupa gunakan minyak wangi karena kamu akan bergaul dengan banyak orang di bus agar baumu wangi dan tidak bau kencur lagi,” aku pun membalas perkataannya, “iya Bu beres jangan kuatir,” aku pun meremehkan pesan dari ibuku dengan sombongnya aku dan aku berfikir, “untuk apa aku menyimpan uang lebih dari satu saku, menyimpan jas hujan dan memakai minyak wangi, hal ini sangat tidak masuk akal menurutku dan sia – sia ,” aku berbicara dalam hati sendirian bagaikan orang gila menggerutu tidak jelas dan pesan dari Ibuku telah berhasil aku sia – sia kan.

            Setelah selesai mengemasi barang dan siap untuk berangkat, ternyata jam dinding sudah menunjukkan pukul 05.30 WIB, waktu yang sangat mepet karena jarak rumah dan alun – alun hanya bisa dicapai paling cepat setengah jam lamanya. Aku bergegas menghampiri ibu yang sedang asyik mencabik – cabik dagang ayam dan menggorengnya di dapur, aku pun berpamitan dan tidak lupa mengucapkan salam. Kemudian aku berangkat ke alun – alun dengan menggunakan sepeda motor yang dikemudikan oleh saudara sepupuku itu.

            Ketika sampai di alun – alun Jombang dan saudaraku berpamitan untuk segera kembali pulang ke rumah karena banyak pekerjaan yang belum dia selesaikan, ku cari bus pariwisata dengan nomor 13. Sudah ku telusuri pelosok alun – alun dan aku tidak menemui bus dengan ciri – ciri seperti itu, hatiku pun semakin gundah, resah , dan gelisah karena jam tangan sudah menunjukkan pukul 06.15 WIB. Terbesit dalam benakku, jangan – jangan aku terlambat kemudian ditinggal oleh teman – teman. Sungguh ingin ku menangis rasanya, tapi aku tak kekurangan akal, aku hubungi Romi dengan telepon genggamku dan dia masih ada di perjalanan menuju alun – alun.  Aku senang mendengarnya.

            Tak lama kemudian Romi beserta bus yang disewanya datang ke alun – alun, saat itu hanya aku lah yang tertinggal dan semua teman sekelasku sudah di dalam bus. Aku tak bosannya meminta maaf kepada seluruh teman sekelasku karena keterlambatanku dan untungnya teman – temanku sangat bijaksana dan mau memaafkanku. Mungkinkah ini pertanda buruk bagiku!.

            Ku telusuri lorong – lorong bus yang dipenuhi kursi untuk diduduki, ku lihat di pojok belakang ada sesosok makhluk yang dapat menyegarkan hatiku, wajahnya manis, rambutnya panjang, tubuhnya cantik dan yang paling membuatku jatuh hati kepadanya adalah aku menemukan kebersamaan dengannya. Pada awal aku mengenalnya tidak punya perasaan seindah ini, apakah aku terserang dengan mantera pepatah jawa rasa tresna jalaran saka kulina ?. Dia sering dipanggil Rita, gadis idamana pria, termasuk diriku. Aku pun mencari tempat duduk yang pas dan aku memutuskan untuk duduk di sebelah sahabatku Romi yang sedang asyik bengong menatap jendela kaca tak berdebu itu.

            Bus berlari kencang, aku berbicang – bincang dengan Romi mulai dari masalah umum sampai masalah pribadi dan tak lupa cerita hantu menjadi warna perbincangan kami. Ku lihat teman – teman ada yang muntah, tidur, nyemil, menyanyi dan bercanda agar suasana di dalam bus tidak kering seperti kuburan. Tak terasa sudah sampai di Surabaya dan masuk ke Kebun Binantang, aku beserta teman – temanku berbondong – bondong keluar dari bus dan membeli karcis agar bisa masuk ke Area Kebun Binantang Surabaya untuk menikmati keindahan binantang sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

            Setelah aku dan kroni – kroniku membeli karcis, aku pun masuk ke Kebun Binantang. Disana sangat ramai dan tak lupa aku mengabadikan gambar binantang – binantang dan mengambil gambar bersama dengan teman – teman sekelasku khususnya Rita wanita pujaan hatiku yang berhasil aku ajak berfoto berduaan dengan kamera digitalku.

Sesi foto telah selesai dan puas ku mengelilingi Kebun Binantang yang disertai dengan rasa capek dan lapar. Aku pun memantau situasi dan kondisi disekitarku dan ku temukan  warung bakso di luar lokasi kebun binantang. Aku makan bakso di warung itu bersama teman – teman. Dengan begitu lahapnya seakan – akan belum pernah makan selama 40 hari 40 malam, aku berhasil menghabiskan empat mangkok bakso ekstra besar itu. Setelah kenyang dan ku cari dompetku di sakuku, aku pun terkejut dan panik. Oh My God, dompetku hilang, dicuri orang, aku pun mengingat kejadian – kejadian di Kebun Binantang yang ramai dikerumuni oleh pengunjung, memang sih aku merasakan sensasi aneh yang sedang menyerang dompetku saat ku sibukkan diriku dengan mengabadikan gambar – gambar indah di Kebun Binantang, ternyata ada yang merogoh sakuku dan mengambil dompetku dan rasa malu tak henti – hentinya menghujam mukaku yang penuh dengan debu. Mau berhutang dengan teman – teman mereka  membawa  uang secukupnya. Akhirnya aku membayar dengan mencuci mangkok 20 mangkok kotor sedangkan teman – temanku asyik bercanda dan makan – makan sesuka pusar mereka. Ini hari yang buruk dan liburan terburukku.

Setelah melakukan tugas dari komandan penjual bakso, aku menghampiri Rita, ketika ku dekat dengannya jantungku berdegug sangat kencang. Aku bercanda tawa dengan Rita untuk mencari waktu yang pas. Tak lama kemudian waktu yang ku nanti datang juga. Aku menembak Rita dengan penuh cinta dan apa kata Rita ?, Rita pun berkata, “maaf, kamu sudah aku anggap kakak sendiri, dalam rumus hidupku tak kan ada sahabat menjadi pacarku atau suamiku, lagi pula aku sudah tunangan dengan pria lain dan berencana untuk menikah tahun depan, satu lagi untukmu, kalau nembak cewek pakai minyak wangi dong agar si cewek nyaman disampingmu dan mau menerimamu sebagai pacarnya,” setelah mendengar penolakan hatiku tersayat ribuan pisau.

Matahari telah tergelincir dan bersembunyi di bumi bagian barat menandakan waktu malam telah dimulai. Kami pun bergegas untuk pulang, karena kebiasaan burukku, aku tertinggal dengan teman – teman karena aku di toilet lagi boker. Setelah itu kepahitan lagi – lagi menimpaku, tak ada angin dan mendung. Tiba – tiba hujan datang dengan kecepatan yang tak diduga – duga. Aku pun berlari dan menerjang hujan hingga basah seluruh tubuhku, syukurnya aku berhasil masuk ke dalam Bus dan siap untuk pulang walaupun sedikit masuk angin. Bus berlari begitu kencangnya, tak terasa sudah sampai di kota Jombang dan saudara sepupuku menjemputku untuk pulang ke rumah.

Aku berseragam piyama, bersiap – siap untuk tidur. Aku merenung tentang liburan terburukku hari ini. Apa salahku sehingga hari ini kesialan tak bosan – bosannya mendera liburanku ?. Dan telah ku temukan jawaban itu, dan ini adalah salahku karena aku sudah meremehkan pesan seorang ibu.

 

Cincin Pangeran Tak Berkepala

Cincin Pangeran Tak Berkepala

Oleh : J.B. Erwin H.

            Mentari bersinar cerah dan kadang tertutup awan. Warga berbondong – bondong dengan gagahnya dan penuh persaudaraan menelusuri jalan – jalan menuju Pendopo. Kicauan kanan kiri wanita desa tak berkerudung baik muda maupun tua, tak luput mewarnai serunya perjalanan ke Pendopo. Mereka bingung, seakan penuh tanya, “mengapa seluruh warga desa mendapat undangan wajib datang  di Pendopo ?.” Rakyat pun tiba di Pendopo dengan penuh tanda tanya.

            Pendopo yang dikepung oleh segerombolan pohon beringin, berhasil membawa sensasi sejuk pada setiap orang yang mendekatinya. Suhu di Pendopo yang biasanya sejuk, tiba – tiba mulai agak memanas, bukan karena suhunya, tetapi karena sosok pria yang misterius. Dia berdiri di pojok kanan pendopo dengan jubah hitam yang menutupi mukanya. Dia terlihat sangat dingin dan sibuk dengan menggoreskan batu khusus pada pisau kecilnya. Sosok pembawa kematian atas perintah raja tersebut, terkenal dengan julukan algojo.

            Di sebelah algojo , terkapar pria tampan tak berdaya dengan muka penuh luka dan debu. Entah apa alasanya?, algojo menyeret pria tampan itu dengan penuh hina tanpa penghormatan di tengah – tengah keramain masyarakat. Raja terdiam seribu bahasa, hanya bisa mengangguk kepada algojo. Algojo pun mengunci kedua tangan dan kaki pria tampan itu dengan borgol yang terbuat dari kayu sehingga dia tidak bisa bergerak. Algojo pun melepaskan pisau dari sarungnya, pisau berkilat cahaya matahari pagi itu menggergaji leher pria tampan dengan lemah lembut dan menyiksa. Hukuman itu teramat keji dan seakan – akan setan pun menyodorkan surat ijin pensiun dini kepada Tuhan karena ada makhluk yang lebih keji daripada dirinya. Gerakan tubuh berontak pria tampan tak dapat dihindarkan karena harus menahan rasa sakit yang teramat perih, jeritan pria itu memekakan telinga warga yang menjadi saksi hidupnya. Algojo pun bermandikan darah akibat tenggorokan pria tampan menyemburkan darah. Tak lama kemudian terpisahlah kepala dari badannya. Kengerian meraja rela.

            Gubraakk…!!, seekor kucing menyenggol fas bunga dan pecah sehingga berhasil membangunkanku  dari tidur malamku. Aku terbengong melihat kucing yang sedang berciuman dengan pasangannya. Aku pun ingin merasakan cinta seperti kucing itu dengan pacarku. Tak lama kemudian aku sadar, kalau aku telah bermimpi buruk dan menimbulkan rasa kaku di sekujur tubuh saat bangun tidur. Aku meminum segelas air putih untuk menenangkan jiwaku.

            Terlintas ingin aku bercinta dengan pacarku di tempat yang gelap, tetapi aku tak dapat melakukannya karena teringat nasehat nenek, “ Anak orang jangan buat mainan, kalau benar – benar cinta, lamarlah dia, bila berjodoh, maka dia dan keluarganya menerimamu menjadi bagian dari keluarganya.” Api semangatku membara untuk menikah dengan pacarku yang bernama Susan. Aku pun berpikir keras untuk membeli cincin tunangan, tapi hanya lima puluh ribu yang tersisa di dompetku, sedangkan harga cincin ratusan ribu. Nasib, nasib.

            Seribu jalan menuju monas, seribu cara menuju kesuksesan. Aku memutuskan untuk jalan – jalan ke rumah angker dekat hunianku pada siang hari, kalau malam hari menurut penduduk sekitar banyak suara – suara aneh yang terdengar di sekitar rumah itu seraya berkata, “ aku ingin masuk,” dengan kalimat yang diulang – ulang selama tiga kali. Aku pun berpikir hantu itu adanya malam, bukan siang, oleh sebab itu lah, aku sangat santai menyisir di setiap sudut rumah angker itu. Walaupun kotor dan tak terawat, aku tak menghiraukannya.

            Kilauan cahaya merah yang berasal dari cincin di atas meja, membuatku bernafsu untuk mengambilnya dan berhasil aku dapatkan. Cincin itu sangat bagus dan berbeda dengan cincin yang lain. Aku berencana untuk melamar Susan dengan cincin yang kutemukan ini. Masa bodoh cincin ini milik siapa ?. Yang penting aku bisa melamar Susan dan menikahinya sekalian melaksanakan ibadah.

            Segerombolan wanita tua yang lupa umur itu berkicau di dekat pedagang sayur dorong dan menceritakan hantu teror. Aku mencoba untuk menguping, aku mendengar kalau semalam ada hantu yang meneror warga desa, sosoknya tinggi besar dan tanpa kepala, aku tak percaya tentang hal itu, aku  berpikir mungkin ibu – ibu mencari sensasi untuk menambah bumbu kicauannya.

            Malam minggu , malam yang asyik karena  waktu kunjung pacar telah tiba. Aku pun bergegas ke rumah Susan untuk mengajaknya ke bioskop. Setelah aku sampai di Rumah Susan, ternyata gosip itu sudah menyebar sampai kesini.. Aku dan Susan segera cabut untuk menikmati malam minggu yang dingin. Aku sengaja memilih film horror, agar kalau Susan takut, dia memelukku dan hasilnya berhasil. Ketika setan bohong – bohongan itu muncul, Susan langsung meremas tanganku dan memelukku. Setelah nonton, aku pun mengajak Susan untuk makan malam di warung pinggir jalan dengan alasan agar nasinya dapat banyak, sebetulnya aku tidak punya uang untuk makan di restoran. Setelah makan, ku usap sisa makanan yang membekas di sekitar bibirnya dan dia menatap mataku begitu dalam. Ku rasa inilah saat yang tepat untuk melamarnya. Aku mengeluarkan Cincin dari saku belakang celanaku dan ku sodorkan kepadanya dengan dibumbui kalimat – kalimat gombal. Matanya berbinar – binar dan dia menerima cincinku dan kita sudah resmi tunangan, tapi pertemuan keluarga masih belum.

            Aku pun mengantarkannya pulang dengan sepeda motor bututku yang diwariskan oleh kakek buyutku. Aku dan Susan menikmati malam – malam yang penuh gelora asmara ini. Malam yang indah menjadi malam yang tersuram bagiku. Jalan yang biasa aku lewati tidak seperti biasanya. Seperti ada membran ghoib yang berhasil melemparkanku dan Susan ke alam lain.  Aku dan Susan tersesat di suatu desa yang tak berpenghuni. Aku pun senang campur seram, senang karena dipeluk Susan dengan teramat kuat, takut karena rumah – rumah itu dan 1lingkungannya memancarkan aura yang menyeramkan.

            Tak lama kemudian, muncul lah penampakan yang sangat menyeramkan, membuat Susan tak sanggup membuka matanya karena ketakutan. Dia sosok manusia dengan perawakan tinggi besar. Dia memakai jubah hitam dan kakinya tidak menyentuh tanah. Dia membawa kepala yang diletakkan di sebelah pinggang seperti pemain sepak bola membawa bolanya. Wajahnya sangat menyeramkan. Terlihat bekas pukulan dan tendangan malaikat penjaga kubur. Pipi dan dahinya berwarna hijau memar dengan mata yang sedikit bergelantungan mau copot dan bermake up darah. Giginya bertaring dan berambut panjang. Ketika aku melihatnya, aku pun merasakan energi negatif yang menjalar di setiap darahku. Energi itu mengalir dari jempol kaki, naik sampai ke ubun – ubun. Perasaan takut tak dapat dihindarkan. Aku mengalami ketakutan yang luar biasa seumur hidupku. Udara dingin menusuk jantungku. Leherku tercekik oleh setan – setan kerdil teman hantu tak berkepala itu untuk menambah efek ketakutanku padanya. Dan aku teringat gosip yang beredar di masyarakat, ternyata sungguh terjadi di kehidupanku dan tak pernah terlupa. Tubuhku tersetrum energi ketegangan yang luar biasa disertai bulu kudukku berdiri sehingga firasatku ingin segera berlari, dan celakanya aku pun tak bisa berbicara, apa lagi berlari. Hantu itu mendekat padaku dan menyodorkan kepalanya. Aku seakan berkomunikasi dengan telepati kepadanya. Tak lama kemudian aku terserap oleh dimensi visual yang diciptakan hantu itu untuk menyampaikan pesan padaku.

            Aku terpental ke alam dimana aku pernah bermimpi seorang pria dipenggal kepalanya. Ini seperti lanjutan kisah mimpiku. Gambaran mimpi ini berganti sudut pandang ke putri raja. Putri raja sering dipanggil dengan Putri Ayu. Dia menangis di kamarnya dan ditemani anak – anak petinggi kerajaan yang cantik jelita. Dia curhat kepada teman – temannya, kalau dia ingin bunuh diri. Dia bercerita kalau pria tampan itu bernama Harto anak raja timur.

            Harto adalah pangeran bedugal pencemar nama baik dan sampah masyarakat dari kerajaan timur. Dia suka sekali dengan melakukan perilaku terlarang dimana palakunya akan sengsara dunia dan akhirat yang biasa disebut molimo. Dia suka sekali minum – minuman keras (minum) dan menelan pil yang mengandung candu narkoba (madat). Untuk membeli semua dia, bekerja sebagai penjudi kelas kakap di desanya (main) dengan uang modal hasil rampasan dan curian uang warga setempat (maling). Bila dalam tekanan setres dan butuh kasih sayang. Dia tak segan – segan mendatangi lokalisasi terdekat untuk bercinta dengan beberapa ayam desa itu (madon) dan kadang kala dia tak mau membayar kepada germonya. Suatu hari dia ingin main perempuan di lokalisasi langganannya, namun lokalisasi itu tutup, dia mencari – cari perempuan yang ingin ditidurinya. Ketika Ayu sedang mencuci baju di sungai Harto mendekatinya. Karena Harto dan Ayu adalah sepasang kekasih, dengan kalimat – kalimat buayanya, Ayu terbius dan mau untuk di ajak bercinta dengan Harto. Dia melakukan hal bejat itu di gua dekat sungai. Beberapa bulan kemudian perut Ayu membucit seperti bola dimasukkan ke kaos. Raja pun heran, apakah putrinya terkena penyakit. Raja memanggil tabib terpintar di desanya. Setelah diperiksa oleh sang tabib. Sang Tabib menyatakan kalau Ayu hamil tujuh bulan. Pada saat itulah raja sangat murka dan tidak pernah semurka ini. Raja berbicara pada putrinya Ayu tentang siapa yang menghamilinya. Ayu menjawab kalau yang menghamilinya adalah Harto. Harto berjanji untuk menikahi Ayu dengan cincin berlian merah sebagai mas kawinnya, namun janji itu tinggal lah janji. Raja pun mengutus beberapa prajurit terlatih untuk menangkap Pangeran Harto dari Kerajaan Timur. Prajurit pun cekatan dan menyisir seluruh pelosok desa dan mereka menemuka Harto. Harto dihadapkan kepada raja Barat dan dipenggal  kepalanya. Itu lah akhir cerita Putri Ayu kepada teman – teman sederajadnya.

            Keesok harinya, Putri Ayu tak tampak batang hidungnya di kerajaan dan menghilang entah kemana. Prajurit terlatih diutus raja untuk mencari putrinya. Prajurit bergegas melaksanakan perintah. Setelah prajurit menjelajahi sungai, terkapar Putri Ayu dengan keadaan tidak bernyawa dan memakai baju putih. Dia mati dengan kondisi yang mengenaskan. Sebelum terjun, Putri Ayu berusaha menggugurkan kandungannya dan akhirnya berhasil. Putri Ayu mengajak bayi mungilnya terjun dari atas jurang dan meninggal.

            Cahaya putih berubah menjadi hitam. Aku terpental ke dunia dimana pacarku memelukku rapat – rapat dan di depanku ada hantu tak berkepala. Aku langsung meraih jari tengah pacarku dan mencopot cincin merah itu. Aku berikan cincin itu kepada hantu tak berkepala. Hantu tak berkepala seraya mengucapkan terima kasih dan memberikan pesan kepadaku, “jangan melakukan molimo bila nasibmu tidak ingin sepertiku.” Aku dan Susan terpental ke alam nyata dan terdampar di tengah sawah. Aku pun melanjutkan perjalanan pulangku. Ketika di jalan aku bertemu kuntilanak dengan memakai pakaian putih dan tuyul. Mereka berdua mengikutiku seperti balapan sepeda motor. Dia berlari di samping kanan dan kiriku. Mereka berterima kasih padaku. Aku pun berpikir mengapa mereka berterima kasih kepadaku ?. Ternyata kuntilanak itu Putri Ayu, Tuyul itu anaknya, dan hantu tak berkepala itu Pangeran Harto. Dengan kembalinya cincin merah itu, dapat menyatukan cinta mereka berdua dan anaknya. Ketika di rumah sang pacar. Aku berjanji padanya untuk membelikan cincin yang lebih bagus lagi. Ketika uang sudah terkumpul. Aku membeli cincin yang ditawarkan oleh teman lamaku. Dan aku menyetujuinya. Ketika cincin yang ku pesan dari temanku itu sampai kepadaku. Ku buka kotak kecil yang sangat lucu. Setelah ku buka kotak kecil itu, aku kaget setengah mati dan ingin terjungkal kebelakang. Aku teringat pengalaman – pengalaman seram yang meneror kehidupan oleh Hantu tak berkepala. Aku menggelengkan kepala seakan tak percaya. Cincin tunangan itu berwarna merah. Dan celakanya cincin itu mirip cincin pangeran tak berkepala.

 

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 304 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: