Arsip Blog

Cinta bersemi di pohon ketepeng

Cinta bersemi di pohon ketepeng.

Oleh : J.B. Erwin H.

            Angin sepoi – sepoi. Mengirimkan butiran – butiran cinta. Bagi mereka yang membutuhkannya. Menghaluskan segala derita yang mengganjal. Puing – puing kenangan tak kan terlupa. Membawa angan – angan melayang ke masa silam. Jerit, tangis, tawa, senyum dan surat cinta kan selalu mewarnai kehidupan.

            Dadang seorang pemuda desa. Bermodalkan sandal jepit, celana pendek, kaos oblong, tas bambu dan sebuah tongkat panjang dengan ujung yang meruncing, Dadang siap menerjang segala rintangan yang menghadang. Panas, dingin, lapar, sepi menjadi sahabat Dadang ketika sang galau menerjang secara bertubi – tubi.

            Kotoran – kotoran busuk menjejali kehidupan kota. Berhasil mengkunci hati setiap insan yang tak memandang. Di sungai yang segar, di jalan yang panas, di sawah yang sejuk, telah menjadi piramid sampah –sampah kota. Seakan – akan melempari ‘kepala bumi’ dengan kotoran, penghinaan, dan menantangnya untuk bertarung. Perbuatan – perbuatan manusia berotak udang itu membuat Bumi marah dan marah.

            Di jaman yang semakin hari semakin bodoh dan terbalik ini. Dibuka lowongan untuk seorang manusia yang mampu meredam kemarahan – kemarahan sang bumi dari angkara murkanya. Bila sang bumi marah, angin menjadi badai, api menjadi laut, air menjadi tsunami dan banjir, melahap semua manusia yang ada di atas kepalanya. Tidak memandang siapapun. Baik yang berbuat salah maupun yang tidak. Tidak peduli teriakan anak kecil yang ketakutan.

            Dadang mempunyai kemampuan untuk menjadi sosok peredam kemarahan bumi yang menakutkan itu. Dengan tongkat yang selalu dibawahnya. Dadang menancapkan ujungnya ke sampah yang tidak disukai bumi. Sampah yang tidak disukai bumi adalah sampah anorganik yang sulit terurai oleh bakteri. Jadi sampah yang diburu Dadang adalah sampah anorganik yang kemudian di jual ke agen rosokan, dengan cara itu Dadang mendapat uang dari kerja kerasnya untuk membeli segunung nasi.

Pekerjaan Dadang adalah pekerjaan yang mulia, bermanfaat bagi orang – orang disekitarnya. Sebaik – baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain. Walaupun tetesan – tetesan keringat yang tak henti – henti keluar dari pori – pori kecilnya, ada saja manusia – manusia berotak udang yang mencerca dan menghinanya.

Manusia berotak udang berkata, “Dadang kamu ini siapa ?, lihat dirimu, bau sampah seperti itu, miskin lagi. Lihat aku, wangi, pakai dasi, uang pun banyak. Sedangkan kamu hanyalah seorang pemulung dari keturunan pemulung.”

Dadang pun menjawab dengan santai dan penuh wibawa, “KAU SALAH, aku bukanlah pemulung, tetapi aku adalah seorang sampah hunter.”

Manusia berotak udang tertawa terbahak – bahak, “hahahahahahaha.”

Dadang berkata, “Jangan sombong kamu, dasar BOTAK, kau menghina pekerjaan kami, bila tidak ada kami, kau tidak akan bisa menjalankan bisnismu dan menjadi sekaya ini.”

Manusia berotak udang berkata, “emang bisa begitu, hahahahahahaha.”

Dadang berkata, “bila tidak ada kami, kau akan bermandikan tetesan –tetesan selokan, memakan bangkai – bangkai binantang, terkubur di dalam sampah – sampah yang senasib sama denganmu.”

Dadang pun pergi dan menjauh dari manusia berotak udang itu.

***

            Tugas Dadang hari ini sebagai sampah hunter adalah memburu sampah di sekolahnya dulu. Lorong – lorong sekolah yang gadu akibat dari hentakan kaki Dadang yang tidak pelan – pelan melangkah. Sekolah yang dulunya tempat Dadang menimba ilmu, sekarang tempat Dadang menimba sampah anorganik. Lapangan sepak bola yang luas sekarang menjadi tempat pembuangan sampah akhir.

            Dadang melihat pohon ketepeng. Pohon itu adalah salah satu saksi bisu sejarah Dadang ketika menimba ilmu di sekolahnya. Baik cerita bahagia, duka, sedih, tawa, pohon ketepeng itulah menjadi salah satu teman curhatnya.

            Tidak lama kemudian datanglah seorang gadis. Dinda namanya. Gadis yang pernah mengisi hati Dadang. Dinda berlari dengan penuh kegirangan mendekati Dadang. Dadang pun ikut lari menghampiri Dinda walaupun terkesan ikut – ikutan.

            “Daaaaaadaannng,” teriak Dinda.

            “Diiiiinndaaaaaaa,”teriak Dadang.

            “Berisik, kau Dadang” teriak sampah hunter lain.

            Kemudian Dinda dan Dadang saling berpelukan. Ketika Dinda berpelukan dengan Dadang, Dinda mencium udara yang tidak sedap. Seperti bau comberan ditambah dengan kaos kaki plus daging busuk.

Dadang pun menyadarinya dan berkata, “Maaf Dinda, itu adalah bauku. Itu adalah salah satu resiko sebagai sampah hunter. Menjaga kelestarian alam, dengan membasmi sampah – sampah yang merugikan.”

            Dinda pun berkata, “Aku tidak peduli dengan baumu Dadang, kerja kerasmu sebagai sampah hunter membuat harum hatiku.”

            “Kau bohong Dinda, kau tega menyakiti hatiku yang kecil ini.”

            “Aku tidak bohong Dadang.”

            “Apa buktinya Dinda ?”

            “Ketika kau memburu sampah anorganik kota, secara tidak sadar kau telah memburu hatiku dan jiwaku.”

            “Aku tidak percaya, apakah ini mimpi ?”

            “Tidak Dadang, ini bukan mimpi.”

            “Coba cium aku Dinda.”

            PLAK PLAK PLAK PLAK

            Jejak telapak tangan yang terbuka dengan warna merah, terlukis di pipi dadang. Dadang pun mengelus-elus pipinya.

            “Mengapa kau lakukan ini Dinda ?”

            “Karena aku ingin menampar pipimu dengan perasaan cintaku kepadamu.”

            Tidak lama kemudian. Dadang mengajak Dinda ke suatu tempat untuk tapak tilas perjalanan hidup mereka di masa – masa silam. Pohon ketepeng yang tinggi dengan daunnya yang lebat, menjadi tempat sasaran Dadang dan Dinda. Dadang dan Dinda berjalan setapak demi setapak dan akhirnya tiba di tempat. Dadang dan Dinda duduk di tumpukan batu bata yang menyerupai kursi.

            Dadang berkata, “Dinda apakah kau masih ingat dengan tempat ini ?”

            Dinda menjawab, “aku masih ingat, kenangan – kenangan yang masuk akal dan tidak masuk akal terjadi di tempat ini, termasuk kenangan kau mencium pipiku tanpa ijin.”

            “Maaf Dinda, aku terlalu sayang padamu.”

            “Iya, aku mengerti kalau kamu sayang kepaku, sayangnya kamu ciumnya cuman satu pipi, coba tiga, aku tidak akan menampar pipimu.”

            “Dulu kita disini sering lo main petak umpet masih ingat kah kau Dinda.”

            “Masih ingatlah Dadang, Kau telah berhasil mengumpetkan hatiku dari teman – teman mu yang suka kepadaku.”

            “Dinda apakah kau masih ingat akan janji kita di pohon ketepeng ini, janji suci ?”

            “Janji apa Dadang ?”

            “Janji kalau kita akan menikah bila sudah besar nanti dan memproduksi anak yang banyak.”

            Dinda terdiam seribu bahasa dan meneteskan air mata.

            SLURP, bunyi ingus yang keluar, ditarik masuk kembali ke dalam hidung dengan menarik nafas cepat.

            “Tidak lama lagi, aku akan tunangan dengan lelaki lain Dadang.”

            Dinda lari menuju pohon ketepeng dan memeluknya. Dadang pun menghampirinya.

            “Mengapa Dinda, mengapa ?” sambil memegang pundak Dinda. Dinda pun kembali berlari ke kursi batu bata. Dadang pun mengikutinya.

            “Karena keluargaku tidak setuju aku menikah dengan kau Dadang.”

            “Apa alasannya tidak setuju kau menikah denganku ? apa kekuranganku ? mukaku ganteng, walau itu kata orang tuaku, tinggiku lumayan. Apa kurangnya ?”

            “Uang,” Jawab Dinda dengan singkat.

            Kalau berurusan dengan uang Dadang tidak berdaya. Maklum Dadang dari keluarga miskin sedangkan Dinda dari keluarga kaya.

            “Apa maksudmu Dinda ? hanya karena aku miskin, tidak punya uang, buat makan pun susah. Kau berani menggadaikan cinta kita dengan uang.”

            “Bukan aku Dadang, tapi orang tua ku. Mamaku bilang, kalau kau ingin mengetahui kehidupanmu setelah menikah nanti, lihatlah kehidupan calon suamimu sebelum menikah.”

            “Sampah Hunter kehidupanku, ikut serta menghijaukan bumi dan menyuburkan tanah kalau tidak ada sampah anorganik yang berserakan di muka bumi ini. Apa yang salah ?. Apa karena aku miskin ?”

            “Kau tidak Miskin Dadang, buatku kau adalah orang yang paling kaya yang pernah aku kenal, melibihi siapapun.”

            “Kok bisa.”

            “Kau telah mengkayakan hatiku dengan cintamu yang tulus dan setia. Keluargaku tidak setuju menikah denganmu karena mereka tidak ingin kalau aku menjadi sampah hunter sepertimu.”

Dadang menghela nafas.

            Tiba – tiba seorang yang mengendarai sepeda pancal lewat disampin Dadang dan Dinda. Orang tersebut berteriak, “Awas, tangannya mbak.” Pengendara sepeda itu akhirnya menubruk pohon yang ada didepannya karena serius memandangi Dadang dan Dinda menyirami benih benih cinta dibawah pohon ketepeng. Pengendara sepeda pancal itu akhirnya jatuh, tersungkur dengan posisi nungging.

            “hahahahahahahahahaha,” tawa Dinda yang seperti mak lampir, tawa yang sangat keras, seakan – akan terdengar hingga ratusan kilometer.

            Oding menatap mata Dinda yang bulat dengan penuh perasaan. Dinda pun kembali menatap Dadang.

            Dinda berkata, “Mengapa kau menatapku seperti itu Dadang ?”

            Dadang berkata, “Karena aku ingin melepaskan busur – busur cintaku ke matamu.”

            “Mengapa kok dari mata Dadang ?”

            “Karena cinta itu datangnya dari mata turun ke hati.”

            “Tahukah engkau Dinda, mengapa keluargamu tidak ingin kau menjadi sampah hunter ?”

            “Tidak tahu aku Dadang, emang mengapa?”

            “Keluargamu tidak ingin hatimu kuburu, tetapi keluargamu menginginkan hatimu kumiliki.”

            “Gombal.”

            “Kau telah menggombali hatiku.”

            “Ngaco kamu, hahahahahahaha.”

            “Kau telah mengacaukan pikiranku dengan terjangan gelombang asmaramu.”

            “Hahahahahaha, gila.”

            “Gila karena cintamu kepadaku.”

            “Dadang bisa aja.”

            “Iya, untuk mengambil hatimu kembali yang hilang dalam hatiku.”

            Dadang dan Dinda tertawa terbahak – bahak.

            “Dinda, lihatlah bunga – bunga yang ada disana,” Dadang menunjukkan Dinda dengan jari telunjuknya.

            “Iya aku lihat.”

            “Tahu kah kamu, sekian banyak bunga yang berwarnah merah dan hanya satu bunga yang berwarna putih.”

            “Tidak Dadang.”

            “Bunga merah melambang wanita yang ada di dunia. Hanya bunga putih yang melambangkan hanya kamu yang dapat menarik hatiku. Warna putih melambangkan sucinya cintaku kepadamu.”

            Dinda terbius oleh rayuan – rayuan buaya Dadang.

“Demi cinta kita Dinda, aku akan berubah. Orang tuamu ingin kau menjadi apa ?”

            “Orang kaya Dadang.”

            “Aku akan berusaha untuk menjadi kaya dan menikah denganmu.”

            “Benarkah.”

            “Insya Allah.”

            “Akan ku tunggu janjimu Dadang.”

            Langit semakin menghitam. Sang Surya bersiap – siap untuk tertidur akibat penyaksian seminya cinta dibawah pohon ketepeng. Membawakan malam – malam sejuta bintang. Membentuk  gugusan – gugusan cinta. Membawakan angin malam penuh penyakit.

            Dadang dan Dinda pun berpamitan.

            Mereka berdua berpelukan dan meneteskan air mata.

***

Singkat Cerita.

Tiga bulan kemudian, Dadang bertemu dengan orang tua kandungnya. Orang tua kandung Dadang adalah seorang pengusaha besar dan super kaya. Dadang terbuang di tempat sampah akibat lolos dari penculikan anak yang marak pada waktu itu. Anak yang diculik akan dijadikan barang dagangan yang bernilai puluhan juta rupiah. Dadang di asuh oleh keluarga sampah hunter.

            Memang benar kata orang. Dunia ini seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah. Dadang telah mengalami masa – masa di bawah. Dengan bertemu dengan orang tua kandungnya. Dadang memulai masa – masa di atas.

            Dadang meminta ijin kepada orang tua kandung dan angkatnya, Dadang ingin menikah dengan Dinda. Orang tua kandung dan angkat Dadang menyetujuinya.

            Tiga hari kemudian. Berbondong – bondong keluarga besar Dadang dikawal oleh ribuan mobil mewah menuju ke rumah Dinda. Ramai – ramai membunyikan sirine mobil. Membuat kegaduhan di jalan. Melambangkan kebahagiaan hati yang berbinar – binar.

            Kaget. Satu kata yang dialami oleh keluarga Dinda. Dinda dan keluarganya bergegas keluar rumah.

            Dengan penampilan yang kaya. Dadang langsung melamar Dinda di tempat. Dinda pun heran seheran – herannya hampir tak percaya.

            “Dadang,” suara Dinda.

            “Dinda,” suara Dadang.

            “Ada apa ?”

            “Aku kesini untuk memenuhi janji kita saat kita bertemu di pohon ketepeng.”

            Dadang dan Dinda berpelukan. Orang tua Dinda hanya diam seribu bahasa karena Ayah kandung Dadang adalah bos dari ayah Dinda.

            Acara pertunangan pun dimulai dan penentuan pernikahan.

            Satu minggu kemudian

            Dadang dan Dinda menikah yang tempatnya dibawah pohon ketepeng. Dadang dan Dinda menebar senyum kepada tamu – tamu undangan.

            Cinta kembali bersemi di Pohon Ketepeng.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 304 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: