Arsip Blog

Pesan Seorang Ibu

Pesan Seorang Ibu

            Kring… kring … kring… telepon genggam berbunyi mengisyaratkan adanya pesan singkat yang masuk dari orang yang aku kenal. Suara itu lah yang berhasil membangunkanku dari tidur panjangku semalam penuh. Memang sudah aku rencanakan tidur lebih awal dan lebih lama untuk mempersiapkan diriku bertamasya ke Kebun Binantang Surabaya agar tidak mudah lelah. Aku ambil telepon genggam yang biasanya ku taruh di meja sebelah kanan tempat tidurku. Aku melihat di layar telepon genggamku, terpampang gambar amplop surat disertai dengan nama Romi sebagai tanda identitas pengirim pesan singkat. Hari ini lah yang aku tunggu – tunggu untuk melepas rasa pengat yang menyerang otakku akibat proses belajar di kampus selama dua semester yang menjenuhkan dan aku membaca pesan singkat dari sahabat yang paling dekat dikampus, “Jangan lupa nanti kita kumpul di alun – alun pukul 06.00 WIB, jangan sampai telat, kalau telat resiko tanggung sendiri, terima kasih,” aku bergegas meninggalkan tempat tidur yang terasa pingin tidur lagi dengan hawa dingin pagi yang menggoda.

            Setelah mandi, gosok gigi, makan dan tidak lupa merapikan tempat tidurku, aku bersemangat untuk mengemasi barang – barang penting yang akan aku bawa ke Kebun Binantang Surabaya seperti kamera digital, buku catatan, bolpoin, dan teopong. Tak lama kemudian Ibuku datang menemuiku dan dia berkata, “Nih pesan untukmu, pertama, kalau memasukkan uang jangan di masukkan hanya satu saku, tapi masukkan di seluruh saku celanamu dengan uang yang dibagi – bagi  rata dengan jumlah saku celanamu agar kalau pencuri mencuri uangmu dalam satu saku maka kamu masih punya uang di saku yang lain, kedua, jangan lupa simpan jas hujan di tasmu untuk jaga – jaga, dan yang ketiga, jangan lupa gunakan minyak wangi karena kamu akan bergaul dengan banyak orang di bus agar baumu wangi dan tidak bau kencur lagi,” aku pun membalas perkataannya, “iya Bu beres jangan kuatir,” aku pun meremehkan pesan dari ibuku dengan sombongnya aku dan aku berfikir, “untuk apa aku menyimpan uang lebih dari satu saku, menyimpan jas hujan dan memakai minyak wangi, hal ini sangat tidak masuk akal menurutku dan sia – sia ,” aku berbicara dalam hati sendirian bagaikan orang gila menggerutu tidak jelas dan pesan dari Ibuku telah berhasil aku sia – sia kan.

            Setelah selesai mengemasi barang dan siap untuk berangkat, ternyata jam dinding sudah menunjukkan pukul 05.30 WIB, waktu yang sangat mepet karena jarak rumah dan alun – alun hanya bisa dicapai paling cepat setengah jam lamanya. Aku bergegas menghampiri ibu yang sedang asyik mencabik – cabik dagang ayam dan menggorengnya di dapur, aku pun berpamitan dan tidak lupa mengucapkan salam. Kemudian aku berangkat ke alun – alun dengan menggunakan sepeda motor yang dikemudikan oleh saudara sepupuku itu.

            Ketika sampai di alun – alun Jombang dan saudaraku berpamitan untuk segera kembali pulang ke rumah karena banyak pekerjaan yang belum dia selesaikan, ku cari bus pariwisata dengan nomor 13. Sudah ku telusuri pelosok alun – alun dan aku tidak menemui bus dengan ciri – ciri seperti itu, hatiku pun semakin gundah, resah , dan gelisah karena jam tangan sudah menunjukkan pukul 06.15 WIB. Terbesit dalam benakku, jangan – jangan aku terlambat kemudian ditinggal oleh teman – teman. Sungguh ingin ku menangis rasanya, tapi aku tak kekurangan akal, aku hubungi Romi dengan telepon genggamku dan dia masih ada di perjalanan menuju alun – alun.  Aku senang mendengarnya.

            Tak lama kemudian Romi beserta bus yang disewanya datang ke alun – alun, saat itu hanya aku lah yang tertinggal dan semua teman sekelasku sudah di dalam bus. Aku tak bosannya meminta maaf kepada seluruh teman sekelasku karena keterlambatanku dan untungnya teman – temanku sangat bijaksana dan mau memaafkanku. Mungkinkah ini pertanda buruk bagiku!.

            Ku telusuri lorong – lorong bus yang dipenuhi kursi untuk diduduki, ku lihat di pojok belakang ada sesosok makhluk yang dapat menyegarkan hatiku, wajahnya manis, rambutnya panjang, tubuhnya cantik dan yang paling membuatku jatuh hati kepadanya adalah aku menemukan kebersamaan dengannya. Pada awal aku mengenalnya tidak punya perasaan seindah ini, apakah aku terserang dengan mantera pepatah jawa rasa tresna jalaran saka kulina ?. Dia sering dipanggil Rita, gadis idamana pria, termasuk diriku. Aku pun mencari tempat duduk yang pas dan aku memutuskan untuk duduk di sebelah sahabatku Romi yang sedang asyik bengong menatap jendela kaca tak berdebu itu.

            Bus berlari kencang, aku berbicang – bincang dengan Romi mulai dari masalah umum sampai masalah pribadi dan tak lupa cerita hantu menjadi warna perbincangan kami. Ku lihat teman – teman ada yang muntah, tidur, nyemil, menyanyi dan bercanda agar suasana di dalam bus tidak kering seperti kuburan. Tak terasa sudah sampai di Surabaya dan masuk ke Kebun Binantang, aku beserta teman – temanku berbondong – bondong keluar dari bus dan membeli karcis agar bisa masuk ke Area Kebun Binantang Surabaya untuk menikmati keindahan binantang sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

            Setelah aku dan kroni – kroniku membeli karcis, aku pun masuk ke Kebun Binantang. Disana sangat ramai dan tak lupa aku mengabadikan gambar binantang – binantang dan mengambil gambar bersama dengan teman – teman sekelasku khususnya Rita wanita pujaan hatiku yang berhasil aku ajak berfoto berduaan dengan kamera digitalku.

Sesi foto telah selesai dan puas ku mengelilingi Kebun Binantang yang disertai dengan rasa capek dan lapar. Aku pun memantau situasi dan kondisi disekitarku dan ku temukan  warung bakso di luar lokasi kebun binantang. Aku makan bakso di warung itu bersama teman – teman. Dengan begitu lahapnya seakan – akan belum pernah makan selama 40 hari 40 malam, aku berhasil menghabiskan empat mangkok bakso ekstra besar itu. Setelah kenyang dan ku cari dompetku di sakuku, aku pun terkejut dan panik. Oh My God, dompetku hilang, dicuri orang, aku pun mengingat kejadian – kejadian di Kebun Binantang yang ramai dikerumuni oleh pengunjung, memang sih aku merasakan sensasi aneh yang sedang menyerang dompetku saat ku sibukkan diriku dengan mengabadikan gambar – gambar indah di Kebun Binantang, ternyata ada yang merogoh sakuku dan mengambil dompetku dan rasa malu tak henti – hentinya menghujam mukaku yang penuh dengan debu. Mau berhutang dengan teman – teman mereka  membawa  uang secukupnya. Akhirnya aku membayar dengan mencuci mangkok 20 mangkok kotor sedangkan teman – temanku asyik bercanda dan makan – makan sesuka pusar mereka. Ini hari yang buruk dan liburan terburukku.

Setelah melakukan tugas dari komandan penjual bakso, aku menghampiri Rita, ketika ku dekat dengannya jantungku berdegug sangat kencang. Aku bercanda tawa dengan Rita untuk mencari waktu yang pas. Tak lama kemudian waktu yang ku nanti datang juga. Aku menembak Rita dengan penuh cinta dan apa kata Rita ?, Rita pun berkata, “maaf, kamu sudah aku anggap kakak sendiri, dalam rumus hidupku tak kan ada sahabat menjadi pacarku atau suamiku, lagi pula aku sudah tunangan dengan pria lain dan berencana untuk menikah tahun depan, satu lagi untukmu, kalau nembak cewek pakai minyak wangi dong agar si cewek nyaman disampingmu dan mau menerimamu sebagai pacarnya,” setelah mendengar penolakan hatiku tersayat ribuan pisau.

Matahari telah tergelincir dan bersembunyi di bumi bagian barat menandakan waktu malam telah dimulai. Kami pun bergegas untuk pulang, karena kebiasaan burukku, aku tertinggal dengan teman – teman karena aku di toilet lagi boker. Setelah itu kepahitan lagi – lagi menimpaku, tak ada angin dan mendung. Tiba – tiba hujan datang dengan kecepatan yang tak diduga – duga. Aku pun berlari dan menerjang hujan hingga basah seluruh tubuhku, syukurnya aku berhasil masuk ke dalam Bus dan siap untuk pulang walaupun sedikit masuk angin. Bus berlari begitu kencangnya, tak terasa sudah sampai di kota Jombang dan saudara sepupuku menjemputku untuk pulang ke rumah.

Aku berseragam piyama, bersiap – siap untuk tidur. Aku merenung tentang liburan terburukku hari ini. Apa salahku sehingga hari ini kesialan tak bosan – bosannya mendera liburanku ?. Dan telah ku temukan jawaban itu, dan ini adalah salahku karena aku sudah meremehkan pesan seorang ibu.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 304 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: